Konon Pada tahun 1940 han di jaman hindia
belanda yang di kenal dengan nama lainya jaman lanun , sebelumnya desa sungai
nanjung telah terkena wabah penyakit kusta dijaman kepemimpinan PAK ANIS RA’I selaku kepala desa sungai nanjung , penyakit
ini sangat berbahaya bagi penderita dan lingkungan di sekitarnya dikernakan
tinkat penjangkitan (penularan) sangat cepat sehingga perlu di adakan tempat
khusus untuk sipenderitanya.
Di jaman dahulu minim nya tingkat pengobatan
secara medis membuat para tabip (dukun kampung) kewalahan dalam melaksanakan
pengobatan dan harus bisa membatasi ruang jangkit agar tidak terlalu luas sehingga
penyakit tersebut tidak merambat kepada masyarakat lain nya, untuk menghindari penyebaran
penjangkitan itu ada beberapa langkah
yang harus dilakukan, usul KI ANOR SA’I selaku
tabip (dukun kampung) yaitu dengan cara pengasingan namun begitu pengobatan
akan terus berjalan,,pendapat KI ANOR SA’I selaku tabip (dukun kampung)
Berselang setahun kemudian tahun 1941 ditugas kanlah UJ,sahrin selaku kebayan
(dusun) sungai nanjung untuk merintis atau membuat tempat pengasingan yang akan
dihuni si penderita penyakit kusta di bantu KI ANOR SA’I dan PAK MANANG saudara
ki anor sa’i sebagai tabip (dukun kampung) di jaman jepang yang dikenal dengan
nama lain jaman epon
Seiring waktu berjalan berdirilah tempat
permungkiman atau tempat pengasingan penyakit tersebut, yang disekitarnya itu
dikelilingi hutan rawa namum terdapat pula suatu pematang (dataran tinggi) yang
di penuhi hamparan umbi gadung
Beberapa tahun berselang disamping pengobatan
dan penampungan penyakit yang di lakukan oleh rombongan UJ,SAHRIN . KI,ANOR
SA’I dan PAK,MANANG beserta yang lain beliu melihat suatu potensi ekonomi
pertanian bagus di permungkiman tersebut
jikalau di bandingkan dengan desa sungai nanjung Meski demikian masyarakak belum juga
sepenuhnya bisa menikmati kekayaan alam yang sudah ada menantinya sejak lama,
di kernakan maraknya masa-masa penjajahan dijaman itu banyak masyarakat yang
masih trauma akan rampasan yang dilakukan oleh penjajah. Namun demikian masyarakat sungai nanjung pun
banyak yang sudah mengetahui tentang potensi tempat tersebut dan ingin
melakukan kegiatan tanam padi di tempat itu. Setelah memdapat berita hembusan angin segar
tentang akan adanya penyampain kemardekaan yang akan di sampaikan pemerintahan
RI melalui pejuangnya masyarakatpun sudah mulai melakukan pergerakan peralihan
tempat bercocok tanam padi kepermungkiman baru yang di bentuk UJ,SAHRIN beserta
kawan-kawanya.
Berselang beberapa bulan kemudian terjadi
kejadian yang mengukir sejarah yaitu penangkapan pejuan RI yaitu pahlawan
RAHADI OSMAN di tahun 1945 yang dilakukan oleh tentara jepang beserta
antek-anteknya di sungai besar suasana pun kembali mencekam masyarakat pun di
hebohkan oleh kejadian tersebut
Namun
permungkiman baru masih terus berjalan menuju langkah perkampungan yang
akhirnya kampung tersebut di beri nama berdasarkan ke adaan tempat,berdasarkan
hamparan atau pematang yang bakal di
jadikan tempat permungkimam yang besar tempat itu di penuhi oleh tumbuhan umbi
gadung maka dari situlah lahirnya sebuah nama kampung yang bernama PEMATANG GADUNG di saat itu tempat ini belum di resmikan
sebagai tempat perkampungan jadi masih di kenal dengan nama tempat pematang
gadung,sedangkan nama tersebut mempunyai
makna yaitu:
Pematang ialah suatu dataran tinggi yang
berbentuk hamparan yang sekarang digunakan untuk perumahan sedangkan gadung itu
di ambil dari nama tumbuhan tersebut yang berada di dalam hamparan pematang itu sendiri maka dari
situlah nama pematang gadung itu di abadikan
Setelah ditetapkan sebuah nama tempat pematang
gadung maka juga ditetapkanlah se orang kepemimpinanan untuk dijadikan panutan
atau pemimpin yang sudah di setujui masyarakat setempat yaitu UJ,SAHRIN selaku
pimpinan tempat tersebut di tahun1947 tapi belum secara depinitip di jaman
pemerintahan revolusi pimpinan SOEKARNO
Dari situlah di mulai kegiatan bercocok taman
padi oleh masyarakat di kepemimpinana
UJ,SAHRIN diceritakan dalam mengolah hasil tanaman padi tersebut masyarakat
sangat kesulitan dalam penjemuran padi
di kernakan ada pohon yang besar yang dinamai pohon PELAIK yang menaungi permungkiman tersebut,dan
aktipitas penjemuran dilakukan di pesaguan kiri namun tidak berselang lama
pohon tersebut telah dimusnahkan oleh KI ANOR SA’I selaku tabip ( dukun
kampung) agar bisa melakukan penjemuran padi di pematang gadung
Pada tahun 1950 Pematang Gadung berencana
menjadi tempat perkampungan yang di pimpin oleh kepala kampung selaku pejabat
kampug itu selama priode yang berlaku dijaman kepemerintahan SOEKARNO yaitu 8
tahun dan akan dipilih kembali setelah masa jabatan itu selesai, dan
ditetapkanlah KARIYA
selaku Kepala Kampung di tahun 1951 namun belum secara depinitip akan tetapi
pungsi dan tugasnya sama dengan kepala desa Empat tahun berselang kepemimpinan
KARIYA Di Berhentikan dengan kasus pembagian kain yang tidak tepat dan di
angkat keranah hukum di jaman itu yang ber akibat pemberhentian total dan
dilanjutkan KEPELI selaku pejabat PJ untuk 1 Priode masa jabatan
Dijaman Tahun 1959 berganti lagi jabatan
kepala kampung secara depinitip kepada HERMAN dan di dampingi oleh SULAIMAN
selaku sekretaris kepala kampung di Era kepemerintahan SOEHARTO selaku presiden
Namun ke Depinitipan kampung belum begitu sempurna secara legal beberapa tahun
berselang jaman Revolusi beralih ke
jaman Ordebaru yang di perkirakan tahun
1966 di kepemerintahan SOEHARTO selaku presiden berbagai peraturan pun mulai
ditingkat kan yang di tujukan kepada kampung setiap wilayah dalam membenahi
kekuasan dalam tingkat kampung di antaranya organisasi kepemerintahan dan
administrasi wilayah masih di kepemimpinan HERMAN pada tahun 1981 lahirlah
selembar SK wilayah admistrasi NO 69 Tahun 1981 Oleh Bupati Ketapang yang kini
di peruntukan diwilayah administrasi kampung di dalam wilayah Kecamatan Matan
Hilir Selatan Kabupaten Ketapang Untuk mengetahui batas kekuasaan administrasi
kampung disitu di jelaskan berdasarkan batas alam yang sudah di ketahui
masing-masing pihak yang ber batasan agar bisa melengkapi legalitas ke
depinitipan kampung tersebut,PAK HERMAN menjabat selama 32 Tahun beralih Lagi kepemimpinan
kepada ISMAIL Di Tahun 1991 Masa jabatan pun masih sama yaitu 8 tahun sepriode
tetapi beliu masih melanjutkan jabatan satu tahun untuk terlaksananya pemilihan
baru jadi beliu menjabat selama 9 tahun Di masa jabatan beliu beliu telah
berhasil dalam membangun imprastruktur yaitu pengaspalan Jl,Raya Desa Pematang
Gadung meskipun belum sepenuh nya terbangun tetapi masyarakat merasa bangga
atas kepemerintahan beliu sejaman itu Terus berpindah lagi kepemimpinan yang
baru yaitu jaman kepemimpinan UJ,SAMSI di Tahun 2000 yang di kenal dalam
kalangan masyarakatn Tahun MELENIUM beliu menjabat selama 1 priode cuman ada
perbedaan antar priode yang dulu dengan priode sejaman nya UJ,SAMSI karna sudah ada pengurangan selama 2 tahun
tinggal menjadi 5 tahun dalam 1 priode
lahan terbuka

Tidak ada komentar:
Posting Komentar